Yogyakarta Raih Penghargaan Pangan Aman dan Pengendalian Resistensi Antimikroba dari BBPOM

Selasa 12-05-2026,14:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

“Kalau antibiotik sudah tidak efektif, prosedur medis seperti operasi, kemoterapi, sampai perawatan bayi baru lahir akan menjadi lebih berisiko,” ungkapnya.

Selain berdampak pada kesehatan, resistensi antibiotik juga memicu beban ekonomi karena biaya pengobatan meningkat dan masa rawat inap pasien menjadi lebih lama.

Untuk menekan risiko tersebut, Pemkot Yogyakarta menjalankan strategi Antimicrobial Stewardship (AMS) atau penggunaan antibiotik secara tepat indikasi, dosis, dan durasi.

Langkah lain dilakukan melalui program Infection Prevention and Control (IPC/PPI) guna memutus penyebaran bakteri resisten atau superbug di fasilitas kesehatan.

BACA JUGA:Taufik Wijaya Kembali Pimpin DPP PJS Lampung Periode 2026-2027

“Kami juga memperkuat vaksinasi sejak dini dan mendorong penerapan WASH atau Water, Sanitation and Hygiene di masyarakat untuk menekan penyakit infeksi,” jelas Emma.

Selain itu, pendekatan One Health turut diterapkan dengan melibatkan sektor kesehatan, peternakan, dan lingkungan dalam pengendalian resistensi antimikroba.

“Kita harus menjaga efektivitas antibiotik karena ini sumber daya yang terbatas. Penggunaannya harus benar-benar bijak dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi menyebut penghargaan Kabupaten/Kota Pangan Aman menjadi penyemangat bagi Pemkot Yogya untuk terus memperkuat pengawasan pangan.

BACA JUGA:Pemekaran Lampung Tengah Dinilai Lambat, Masyarakat Terus Menunggu Kepastian

Menurut dia, sejak 2025 Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta dipercaya sebagai leading sector dalam program keamanan pangan daerah.

“Alhamdulillah kami masuk dalam 10 nominasi nasional. Tinggal satu yang belum, yakni Perda tentang keamanan pangan, dan itu sudah kami tindak lanjuti bersama legislatif,” ujarnya.

Sukidi mengatakan sebagian besar indikator penilaian sebenarnya sudah rutin dijalankan, termasuk pengawasan jajanan sekolah dan edukasi pangan sehat kepada masyarakat.

Sepanjang 2025, pengawasan pangan dilakukan di sekitar 285 sekolah mulai tingkat TK, SD, hingga SMP. Beberapa sekolah juga ditetapkan sebagai percontohan pangan sehat dan aman, seperti TK Negeri 6 Kota Yogyakarta, SD Muhammadiyah 2 Wirobrajan, dan SMP Negeri 13 Yogyakarta.

BACA JUGA:Pemekaran Lampung Tengah Dinilai Lambat, Masyarakat Terus Menunggu Kepastian

“Kami mengawasi 85 jenis jajanan sekolah. Salah satu yang diuji adalah cilok karena cukup digemari anak-anak,” katanya.

Kategori :