Penerbangan Terganggu Erupsi Anak Krakatau, Pemerintah Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi

 Penerbangan Terganggu Erupsi Anak Krakatau, Pemerintah Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi

Penerbangan Terganggu Erupsi Anak Krakatau, Pemerintah Siapkan Sejumlah Langkah Antisipasi--Ist

Pemerintah juga mengimbau masyarakat dan pelaku usaha mempertimbangkan moda transportasi lain apabila penerbangan belum dapat beroperasi normal. Pilihan tersebut mencakup transportasi laut, kereta api, dan angkutan darat.

Menurut Dodi, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama pemerintah, terutama apabila gangguan akibat erupsi berlangsung lebih lama.

“Kami tidak ingin memaksakan apabila kondisi berkepanjangan. Aspek keselamatan tentunya harus menjadi prioritas kami,” ujarnya.

Terkait potensi kerugian operasional akibat gangguan penerbangan, pemerintah belum melakukan penghitungan. Saat ini, perhatian utama diarahkan pada keselamatan dan pelayanan terhadap masyarakat.

Aktivitas Vulkanik Masih Dinamis

Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik masih tergolong tinggi, dengan potensi bahaya yang terutama berada di sekitar tubuh gunung api dan radius rekomendasi yang telah ditetapkan.

Pemantauan aktivitas dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan karakter dan energi erupsi, kondisi morfologi, data visual dan instrumental, serta perubahan wilayah terdampak.

BACA JUGA:Tim URC Satreskrim Polres Mesuji Ringkus Pelaku Pencurian Truk Lintas Provinsi

Data pemantauan pada 6 September menunjukkan amplitudo aktivitas mengalami penurunan signifikan. Kendati demikian, kondisi tersebut belum dapat dimaknai sebagai tanda bahwa aktivitas erupsi telah berakhir.

Dinamika Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan energi maupun tekanan di dalam tubuh gunung api.

Sebaran Abu Vulkanik Terus Dipantau

Pemerintah juga memantau pergerakan abu vulkanik menggunakan berbagai sumber data, antara lain MAGMA Indonesia, BMKG, citra satelit, serta stasiun pengamatan.

Pada lapisan tertentu, abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia. Sementara pada ketinggian sekitar 20.000 kaki atau 6 kilometer, sebagian material bergerak ke arah timur menuju perairan Selat Sunda bagian selatan.

Material abu pada ketinggian sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer juga menjadi bagian dari pemantauan pemerintah untuk mengetahui arah dan potensi sebarannya.

Arah serta kecepatan angin menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan abu vulkanik. Karena itu, perkembangan kondisi atmosfer dan aktivitas gunung api terus dipantau secara berkala.

Tag
Share
Berita Lainnya