Tribuana Manggala Bhakti Jadi Wujud Ekoteologi Umat Buddha Menoreh di Vesakha Sananda 2026
Tribuana Manggala Bhakti Jadi Wujud Ekoteologi Umat Buddha Menoreh di Vesakha Sananda 2026--Ist
YOGYAKARTA, INFOWAW.ID — Semangat merawat alam sebagai bagian dari praktik spiritual Buddhis mewarnai rangkaian peringatan Waisak 2569 BE/2026 melalui kegiatan Tribuana Manggala Bhakti yang digelar di kawasan Ekowisata Sungai Mudal, Kalurahan Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa YOGYAKARTA, Kamis (14/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB itu menjadi bagian dari rangkaian Vesakha Sananda 2026, dengan melibatkan umat Buddha, tokoh lintas organisasi keagamaan Buddha, pemerintah daerah, mahasiswa Institut Nalanda Jakarta, serta masyarakat sekitar dalam aksi nyata pelestarian lingkungan berbasis nilai keagamaan.
Ketua Panitia Tribuana Manggala Bhakti, Surahman, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan tradisi rutin masyarakat Buddha di kawasan Pegunungan Menoreh yang telah dilaksanakan sejak 2014 sebagai bentuk implementasi ajaran spiritual yang selaras dengan alam.
“Tribuana itu tiga matra kehidupan yang kita rawat, yakni bumi, air, dan udara. Karena itu simbol kegiatannya ada penanaman pohon untuk bumi, pelepasan ikan endemik untuk air, dan pelepasan burung untuk udara,” ujar Surahman.
BACA JUGA:CLPD Apresiasi Tindakan Tegas Aparat, Minta Pengusutan Bandar di Pesawaran dan Lampung Timur
Menurutnya, umat Buddha di Menoreh memiliki tradisi menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan kelestarian lingkungan. Penanaman pohon yang dilakukan secara simbolis di lokasi kegiatan menjadi awal dari gerakan penghijauan yang lebih luas melalui pembagian bibit pohon kepada umat untuk ditanam di lingkungan masing-masing.
“Kami ingin nilai-nilai Buddhis tidak hanya dipraktikkan di ruang ibadah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap alam. Umat nanti akan membawa pulang bibit pohon untuk ditanam bersama,” katanya.
Selain penanaman pohon, kegiatan juga diisi pelepasan ikan nilam endemik kawasan Sungai Mudal serta pelepasan burung sebagai simbol perawatan terhadap ekosistem air dan udara.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, S.Kom., M.Pd., menyampaikan bahwa Tribuana Manggala Bhakti merupakan salah satu implementasi nyata konsep ekoteologi dalam kehidupan umat Buddha.
BACA JUGA:Polres Mesuji dan Polsek Jajaran Kawal Ibadah Peringatan Kenaikan Isa Al-Masih
Menurut Pandu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Asta Protas, turunan program pembangunan nasional yang mendorong umat beragama agar tidak hanya fokus pada ritual, tetapi juga memberi dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Beragama itu bukan hanya untuk diri sendiri. Bagaimana kita hadir memberi manfaat, termasuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari praktik spiritual,” ujar Pandu.
Ia menambahkan, semangat ekoteologi dalam Buddhisme diwujudkan melalui kesadaran merawat tiga unsur kehidupan, yakni daratan, air, dan udara, yang diwujudkan dalam aksi nyata seperti penghijauan, pelepasan satwa, serta pelestarian seni budaya lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Pandu juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, relawan, donatur, dan para pengisi acara yang tetap menjaga semangat gotong royong meskipun tahun ini pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan keterbatasan dukungan anggaran.
- Tag
- Share
-