Sementara itu, Jogja Model Academy, Editrix Model & Talent Management, Damar Indonesia, Volcano Production, Visiting Jogja, serta U C1000 turut menjadi bagian dari kolaborasi penyelenggaraan tahun ini.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa sebuah pergelaran fashion tidak hanya bergantung pada karya desainer dan penampilan model. Ada pula peran penata rias, manajemen talenta, tim produksi, pengelola tempat, brand, komunitas, serta dukungan pemerintah dalam menjalankan kegiatan.
Kerja sama lintas sektor inilah yang terus dikembangkan JFR agar ajang tahunan tersebut dapat memberikan ruang pertemuan sekaligus peluang baru bagi para pelaku industri.
BACA JUGA:Wabup Umi Laila Buka Penetrasi Pasar di Pringsewu
Dua Belas Tahun JFR, Dorong Pertumbuhan Fashion di Yogyakarta
Bertahannya Jogja Fashion Rendezvous hingga penyelenggaraan tahun ke-12 menjadi salah satu alasan ASMAT PRO Group terus memperluas cakupan kegiatan.
Nyudi memandang JFR bukan semata-mata sebagai acara tahunan untuk menampilkan koleksi busana. Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan menjadi tempat bertemunya berbagai pihak yang memiliki peran dalam perkembangan industri fashion.
“Kami ingin JFR terus berkembang sebagai ruang pertemuan. Bukan hanya mempertemukan desainer dengan penonton, tetapi juga mempertemukan desainer dengan model, brand, buyer, komunitas, industri kreatif dan generasi muda. Harapannya, dari sini muncul lebih banyak kolaborasi dan peluang baru,” jelasnya.
Melalui pertemuan tersebut, penyelenggara berharap para desainer memiliki kesempatan membangun jejaring yang lebih luas, sementara model dan talenta muda memperoleh ruang untuk mengembangkan pengalaman di industri.
Peluang serupa juga diharapkan terbuka bagi brand, pelaku IKM, dan komunitas kreatif yang terlibat sepanjang penyelenggaraan JFR 2026.
Bagi ASMAT PRO Group, kesinambungan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu ruang pertumbuhan fashion Indonesia yang mempertemukan kreativitas lokal dengan berbagai peluang kolaborasi.
Kehadiran 77 desainer, ratusan model lintas generasi, serta berbagai pelaku industri kreatif dalam JFR 2026 menunjukkan luasnya keterlibatan pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan fashion Tanah Air.
Melalui NAVARUPA, Jogja Fashion Rendezvous 2026 membawa pesan bahwa keberagaman dan inovasi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya. Semangat tersebut diharapkan terus mendorong lahirnya karya, talenta, dan kolaborasi baru dalam industri fashion Indonesia. (Faqih).