Becak Bertransformasi Menjadi Ruang Menonton Film
Rangkaian Jelajah Becak Listrik tidak berhenti setelah peserta berkeliling kawasan bersejarah. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan melalui konsep Becak Drive-In Cinema yang menjadi bagian dari agenda KHFF 2026.
Dalam konsep ini, becak tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai tempat duduk bagi peserta saat menikmati pemutaran film.
Pemutaran film digelar di kawasan Pasar Terban dengan menghadirkan suasana yang menghubungkan berbagai elemen khas Yogyakarta, seperti pasar tradisional, becak, ruang budaya, dan aktivitas kreatif masyarakat.
Yetti mengatakan konsep tersebut menjadi cara untuk mempertemukan berbagai ruang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.
"Kita mencoba menghubungkan ruang-ruang aktivitas yang menunjukkan karakter Yogyakarta, mulai dari pasar, becak, hingga kawasan budaya," ungkapnya.
BACA JUGA:Dorong Kemandirian Ekonomi, BUMKal Nyawiji Condongcatur Petakan Potensi Wilayah
EduScreen Perluas Keterlibatan Masyarakat
Selain Jelajah Becak, KHFF 2026 juga menghadirkan program EduScreen yang ditujukan bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, serta masyarakat umum.
Program tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam kegiatan festival sekaligus mengenal warisan budaya melalui pendekatan yang lebih interaktif.
Melalui EduScreen, festival tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni dan film, tetapi juga sarana pembelajaran budaya bagi berbagai kalangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta, Rizki Budi Utomo, S.T., M.T., menilai keterlibatan pengemudi becak dalam kegiatan ini memiliki nilai lebih dari sekadar mendukung kebutuhan transportasi.
Menurutnya, keberadaan becak dalam festival budaya turut memperkuat upaya mempertahankan identitas transportasi tradisional Yogyakarta di tengah perkembangan zaman.
"Ini bukan hanya soal mendukung mobilitas peserta, tetapi juga bagian dari menjaga keberadaan becak sebagai identitas transportasi sekaligus budaya Yogyakarta," kata Rizki.
Melalui Jelajah Becak Listrik, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencoba menghadirkan cara baru dalam memperkenalkan kawasan Kotabaru kepada masyarakat. Kolaborasi antara teknologi, transportasi tradisional, dan kegiatan budaya menjadi salah satu langkah untuk menjaga warisan sejarah agar tetap relevan dan dapat dinikmati generasi saat ini. (Faqih).