LAMPUNG SELATAN, INFOWAW.ID – Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Lampung bersama seluruh Pengurus Cabang PMII se-Lampung menggelar aksi lingkungan bertajuk “Shodaqoh Oksigen: Tanam Mangrove untuk Kehidupan” di pesisir Desa Pematang Pasir, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.
Kegiatan ini melibatkan lebih dari 200 kader PMII dari 8 cabang se-Lampung dan dipimpin langsung oleh Ketua PKC PMII Lampung, M. Yusuf Kurniawan. Aksi ini merupakan wujud komitmen organisasi dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan ekologi dalam kerja-kerja kerakyatan.
1. Latar Belakang dan Urgensi Kegiatan
Desa Pematang Pasir dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menjadi salah satu wilayah pesisir Lampung Selatan yang mengalami abrasi dan degradasi ekosistem mangrove dalam 5 tahun terakhir. Hilangnya tutupan mangrove berdampak langsung pada meningkatnya intrusi air laut, berkurangnya hasil tangkapan nelayan, dan kerentanan permukiman warga terhadap gelombang pasang.
Menjawab persoalan tersebut, PKC PMII Lampung menginisiasi penanaman 5.000 bibit mangrove sebagai bentuk _shodaqoh oksigen_ bagi masyarakat dan lingkungan. Pemilihan mangrove didasarkan pada fungsi ekologisnya yang ganda: menyerap karbon, menahan abrasi, dan menjadi habitat biota laut yang menopang ekonomi pesisir.
BACA JUGA:Stay Clean Stay Strong, Mahasiswa UIN Suka Kampanyekan Hidup Bebas Narkoba
2. Kolaborasi Lintas Elemen
Keberhasilan kegiatan tidak lepas dari kolaborasi yang dibangun sejak tahap perencanaan. Hadir dalam kegiatan:
- Alumni PMII Lampung yang memberikan dukungan turun langsung menanam
- Pemerintah Desa Pematang Pasir, dipimpin oleh Kepala Desa dan perangkat desa, yang memfasilitasi lokasi dan mobilisasi warga
- Masyarakat Desa Pematang Pasir, terutama kelompok nelayan dan ibu-ibu pesisir
- Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung yang menyediakan bibit mangrove dan memberikan pendampingan teknis penanaman
Ketua Pelaksana Kegiatan, M. Munif Jazuli, menekankan pentingnya kerja kolektif ini.
“Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada seremoni. Sejak awal kami libatkan desa dan dinas agar ada tanggung jawab bersama dalam perawatan pasca tanam. Ini kerja kader, alumni, pemerintah, dan warga. Tanpa itu, 5.000 bibit ini tidak akan bertahan,” ujarnya di sela kegiatan.
BACA JUGA:Jelang Iduladha 2026, 1.300 Pisau Diasah di Pelatihan Manajemen Qurban Sleman