InJourney Hospitality House Digelar di Prambanan, 90 Penjaga Warisan Budaya Ikut Pelatihan

 InJourney Hospitality House Digelar di Prambanan, 90 Penjaga Warisan Budaya Ikut Pelatihan

InJourney Hospitality House Digelar di Prambanan, 90 Penjaga Warisan Budaya Ikut Pelatihan--Ist

Manusia yang berada di sekitar cagar budaya, karena itu, memiliki peran untuk menerjemahkan nilai, sejarah, serta proses pelestariannya menjadi informasi yang mudah dipahami wisatawan.

“Batu itu tidak bisa berbicara. Kalian nanti yang membuat batu itu bicara. Ketika seorang juru pelihara sedang membersihkan dan ada wisatawan yang bertanya, misalnya, perlu dijelaskan bahwa batu-batu ini membutuhkan perawatan. Termasuk batu-batu di sekeliling candi yang posisinya belum pada tempatnya atau masih berserakan, itu juga tidak bisa berbicara. Kalian yang bisa menyampaikan. Para steller dan suker juga harus mampu menjelaskan,” jelas Nahar.

BACA JUGA:Cek Kesehatan Gratis Meriahkan Pesta Rakyat HUT ke-81 RI di Titik Nol Kilometer Yogyakarta

Bekal bagi Juru Pelihara dan Pemandu Wisata

Salah satu juru pelihara Balai Konservasi DIY, Ida Prastiwi, mengatakan pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan kebersihan dan pemeliharaan cagar budaya, tetapi juga berinteraksi secara langsung dengan wisatawan.

Menurut Ida, materi storytelling dan pelayanan yang diperoleh melalui IHH menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan pengunjung.

“Kami harus menguasai sejarah singkat candi agar bisa memberikan informasi kepada mereka. Kami juga berinteraksi dengan tamu. Kami belajar bagaimana menerima tamu, bagaimana bersikap ramah dan sopan sehingga tamu kami nyaman dan puas dalam berkunjung,” terang Ida.

Sementara itu, pemandu lokal di Keraton Ratu Boko, Fitria Andarini, menilai pelatihan IHH memberikan perspektif baru dalam mengemas informasi mengenai destinasi agar lebih menarik bagi wisatawan.

Menurut Fitria, pendekatan yang digunakan dalam IHH juga dekat dengan perkembangan perilaku wisatawan masa kini. Materi tidak hanya berfokus pada pengetahuan mengenai destinasi, tetapi juga cara pemandu membangun komunikasi dan menciptakan pengalaman yang relevan bagi pengunjung.

“Kemasan baru yang saya dapatkan dari pelatihan ini sangat menarik. Narasumber IHH yang berasal dari generasi Z mengikuti perkembangan zaman, termasuk dari segi penggunaan bahasa dan bagaimana cara kita melayani tamu. Kiat-kiat storytelling yang baik dan menarik bagi pengunjung, terutama bagi kami sebagai pemandu wisata, sangat penting. Banyak hal yang akan saya perbaiki lagi dari apa yang sudah saya dapatkan di sini,” kata Fitria.

BACA JUGA:BULOG Yogyakarta Mulai Salurkan Bantuan Beras Juli-September 2026, Sasar 522 Ribu Penerima

Perkuat Pengalaman Wisata di Sendratari Ramayana

Penguatan kemampuan hospitality melalui IHH juga dirasakan para seniman yang turut mendukung pengalaman wisata budaya di kawasan Candi Prambanan.

Seniman yang beraktivitas di Sendratari Ramayana Prambanan, Anom Hartoyo Jutawijaya Kusuma, mengatakan materi yang diperoleh melalui program tersebut dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pengalaman penonton dalam pertunjukan.

“Ini menjadi bekal bagi kami untuk diterapkan dalam pementasan Ramayana Ballet Candi Prambanan. Dengan ilmu yang kami dapatkan, kami juga bisa mengaplikasikannya kepada teman-teman agar pengunjung dan penonton dapat semakin menikmati pelayanan yang kami berikan,” jelas Anom.

Tag
Share
Berita Lainnya