Ia menegaskan bahwa musik bukan hanya soal hiburan. Lebih dari itu, musik dapat menjadi media untuk menjaga nilai kemanusiaan dan mengingatkan masyarakat agar tetap berpijak pada akar budayanya.
"Saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Kiai Kanjeng yang terus menjaga dan merawat musik sebagai sarana untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, agar kita tidak tercerabut dari akar budaya dan kehilangan pegangan di tengah kondisi kehidupan saat ini," ungkapnya.
Meski menikmati pertunjukan tersebut, Lukman mengaku masih ada sejumlah lagu yang sebenarnya ingin didengarkan. Terutama selawat dan beberapa lagu yang pernah populer pada masanya. Namun, dengan durasi pertunjukan sekitar 90 menit, tidak semua lagu dapat masuk dalam rangkaian penampilan malam itu.
Ia berharap pertunjukan Gamelan Kiai Kanjeng tidak hanya digelar di Yogyakarta. Kota-kota besar seperti Jakarta juga diharapkan bisa menjadi tujuan berikutnya agar semakin banyak masyarakat yang berkesempatan menyaksikan penampilan mereka secara langsung.
BACA JUGA:KAI Daop 6 Kenalkan Konektivitas Antarmoda, Insan Pers Jajal Kereta Cepat Whoosh
Menurut Lukman, masyarakat Maiyah yang tersebar di berbagai kota tentu memiliki kerinduan untuk kembali menikmati pertunjukan Gamelan Kiai Kanjeng.
Pertunjukan di Purawisata Amphitheater malam itu pun meninggalkan kesan bahwa musik tradisional bisa hadir dengan banyak wajah. Melalui perpaduan gamelan, instrumen modern, dan lagu-lagu lintas genre, Kiai Kanjeng menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti harus membatasi diri dari perkembangan musik. Justru, kreativitas dapat menjadi jalan agar kekayaan budaya tetap hidup dan semakin dikenal oleh generasi berikutnya. (Faqih).