Setelah mengunjungi sejumlah makam ulama di Klaten, rombongan melanjutkan perjalanan kembali ke wilayah Sleman. Kompleks makam Pangeran Purboyo di Wotgalih, Kapanewon Berbah, menjadi tempat terakhir yang dikunjungi dalam rangkaian wisata religi tersebut.
Lebih dari Sekadar Ziarah, Turut Kijing Jadi Ajang Silaturahmi Rois Condongcatur
Perjalanan Turut Kijing tidak hanya memberikan kesempatan kepada para rois untuk mengenal sejarah ulama. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk berkumpul, mempererat persaudaraan, dan menjaga kekompakan di antara mereka yang selama ini menjalankan pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.
Di Kalurahan Condongcatur, terdapat 51 rois yang tersebar di 18 padukuhan. Keberadaan mereka cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari warga karena turut membantu berbagai keperluan keagamaan.
BACA JUGA:Jelang HPN dan Porwanas 2027, PWI Pringsewu Perkuat Soliditas dan Evaluasi Organisasi
Mulai dari mendampingi keluarga saat kelahiran, akikah, tasyakuran, dan pernikahan, hingga membantu proses perawatan jenazah. Tugas tersebut membuat para rois menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Kebersamaan antarrois juga dijaga melalui pertemuan rutin Forkom Rois Condongcatur yang dilaksanakan setiap selapan atau 35 hari sekali, bertepatan dengan Sabtu Legi.
Pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang berkumpul. Para rois juga memanfaatkannya untuk bertukar pengalaman, berdiskusi, serta membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan pelayanan keagamaan di masing-masing padukuhan.
Ketua Forkom Rois Condongcatur, Tugiyo Abdullah, S.E., turut mendorong agar para rois tetap menjaga kekompakan dan terus meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugasnya. Harapannya, pelayanan keagamaan kepada masyarakat dapat berjalan semakin baik.
Perhatian terhadap keberadaan rois juga datang dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur. Selain pembinaan dan pemberian insentif, pemerintah kalurahan memberikan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan, khususnya program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
BACA JUGA:Tanamkan Demokrasi Sejak Dini, Bawaslu Yogyakarta Kenalkan Pemilos kepada Siswa SMP
Wisata religi sendiri sudah menjadi salah satu agenda pembinaan Forkom Rois Condongcatur. Sebelumnya, pada Februari 2026, para rois juga melakukan perjalanan ziarah ke sejumlah makam tokoh penyebar Islam di Kudus, Demak, dan Kadilangu, Jawa Tengah.
Kegiatan serupa menjadi kesempatan untuk menambah pengetahuan tentang sejarah penyebaran Islam sekaligus menjaga hubungan baik di antara para rois.
Melalui Turut Kijing, para peserta diharapkan dapat membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman perjalanan. Ada nilai-nilai perjuangan yang bisa dijadikan pegangan dalam menjalankan tugas di lingkungan masing-masing.
Keikhlasan dalam membantu warga, kesabaran menghadapi berbagai persoalan, serta keteguhan dalam menjalankan pengabdian merupakan teladan yang dapat dipelajari dari perjalanan hidup para ulama.
Pada akhirnya, ziarah dari Klaten hingga Wotgalih menjadi pengingat bahwa perjuangan para pendahulu perlu diteruskan. Bukan hanya dengan mengenang nama dan mendatangi makam mereka, tetapi juga dengan menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan.