Potensi Perfilman Yogyakarta Besar, Pemkot Ajak Sineas Angkat Budaya Lokal ke Layar Lebar

Senin 26-10-2026,22:04 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

YOGYAKARTA, INFOWAW.ID – Yogyakarta memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat perfilman nasional. Potensi tersebut didukung kekayaan budaya, sumber daya manusia di bidang kreatif, serta banyaknya lokasi menarik yang dapat dimanfaatkan untuk produksi film sekaligus memperkenalkan pariwisata daerah.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta terus memberikan dukungan terhadap perkembangan industri kreatif, terutama perfilman. Selain menjadi sarana hiburan, film dinilai memiliki peran penting dalam mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.

Hal itu disampaikan Wawan saat menghadiri audiensi CINELIFT dalam rangka promosi film Piye To Kih? produksi Miracle Pictures di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, Yogyakarta mempunyai banyak keunggulan yang dapat menunjang perkembangan industri perfilman Indonesia. Tidak hanya memiliki pelaku seni dan talenta kreatif, sejumlah kawasan di kota tersebut juga dinilai layak menjadi lokasi pengambilan gambar.

Wawan berharap para sineas semakin banyak melibatkan pemain lokal dan memanfaatkan berbagai sudut Kota Yogyakarta dalam produksi film. Dengan begitu, karya yang dihasilkan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga ikut mempromosikan potensi budaya dan pariwisata.

BACA JUGA:Film Piye To Kih? Gabungkan Komedi, Horor, dan Romansa, Ini Jadwal Tayang dan Daftar Pemainnya

Ia mencontohkan kawasan Prawirotaman yang pernah menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar film Ada Apa dengan Cinta?. Menurutnya, masih banyak tempat lain di Yogyakarta yang memiliki daya tarik untuk diangkat ke layar lebar.

Dalam kesempatan tersebut, Wawan turut mengapresiasi film Piye To Kih? yang mengusung genre drama komedi dengan sentuhan supranatural. Film itu dinilai menyajikan cerita ringan, tetapi tetap memiliki pesan moral yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Film yang dikemas pun cukup sebagai tontonan yang ringan di tengah kondisi kita saat ini. Kami mengapresiasi, khususnya karena beberapa pemainnya juga berasal dari Jogja, seperti Marwoto,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wawan menyebut pengembangan industri perfilman sejalan dengan upaya memperkuat Yogyakarta sebagai Kota Festival. Salah satu kegiatan yang rutin digelar melalui Dinas Kebudayaan adalah Kota Baru Heritage Film Festival (KHFF).

Festival tersebut menjadi ruang bagi generasi muda dan pelaku perfilman untuk berkarya sekaligus mengenal serta melestarikan warisan budaya melalui film.

BACA JUGA:Pringsewu Jadi Tuan Rumah Hari Tani Nasional 2026, Mentan Amran Soroti Nasib Petani

Pemerintah Kota Yogyakarta, kata Wawan, mendukung berbagai kegiatan perfilman yang melibatkan insan kreatif lokal, mulai dari peluncuran hingga pemutaran film. Ia berharap semakin banyak karya yang lahir dari Yogyakarta dan mampu menjangkau penonton di tingkat nasional.

Sementara itu, sutradara sekaligus produser film Piye To Kih?, Ito Mavin, menjelaskan bahwa film garapannya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

Yogyakarta menjadi salah satu kota yang masuk dalam rangkaian pemutaran khusus sebelum film tersebut resmi ditayangkan secara nasional.

Kategori :