Nurhayati menilai pembelajaran semacam ini penting diberikan sejak dini. Sebab, pemahaman mengenai demokrasi bukan hanya menyangkut tata cara memberikan suara, melainkan juga kesadaran untuk menghormati hak dan pilihan setiap orang.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tertanam dalam diri siswa hingga mereka memasuki usia pemilih. Dengan demikian, ketika kelak berpartisipasi dalam pemilu maupun pemilihan kepala daerah, mereka telah memiliki bekal untuk menggunakan hak pilih secara sadar dan bertanggung jawab.
BACA JUGA:Puncak HUT ke-270 Kota Yogyakarta, WJNC 2026 Siapkan 450 Personel Pengamanan
Kehadiran Bawaslu Berikan Pengalaman Baru bagi Siswa
Kepala SMP Negeri 13 Yogyakarta, Abdurrahman, mengapresiasi keterlibatan Bawaslu Kota Yogyakarta dalam kegiatan “Suara Demokrasi”.
Menurutnya, kehadiran praktisi kepemiluan memberikan tambahan wawasan bagi siswa sekaligus melengkapi materi demokrasi yang selama ini telah diajarkan oleh guru.
Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh gambaran mengenai proses demokrasi yang lebih luas, termasuk penyelenggaraan pemilihan presiden hingga kepala daerah.
“Adanya Bawaslu membantu memahami demokrasi, termasuk bagaimana proses pemilihan presiden hingga kepala daerah. Kokurikuler ini diharapkan memberikan pengalaman baru. Selama ini guru menjelaskan, tetapi dengan adanya praktisi tentu menambah nuansa dan pengetahuan baru bagi kita semua,” kata Abdurrahman.
Ia berharap pengalaman belajar bersama Bawaslu dapat memperkaya pengetahuan siswa dan membantu mereka memahami pentingnya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pembelajaran di sekolah dapat diperkuat melalui keterlibatan pihak yang memiliki pengalaman langsung di bidang kepemiluan.
BACA JUGA:Puncak HUT ke-270 Kota Yogyakarta, WJNC 2026 Siapkan 450 Personel Pengamanan
Menanamkan Kesadaran Demokrasi Sejak Dini
Bagi Bawaslu Kota Yogyakarta, keterlibatan dalam kegiatan pendidikan demokrasi di sekolah merupakan bagian dari upaya pencegahan melalui peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda yang kelak menjadi pemilih pemula.
Pengenalan nilai-nilai demokrasi sejak usia sekolah diharapkan dapat membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang kritis, berani menyampaikan pendapat, dan mampu menghargai pandangan yang berbeda.
Selain memahami mekanisme pemilihan, siswa perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk menentukan pilihan tanpa tekanan dari pihak lain.
Pembelajaran tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti pemilihan pengurus organisasi sekolah, musyawarah kelas, maupun pengambilan keputusan dalam kegiatan bersama.