"Kami memberikan semacam awarding untuk lima nominasi. Jadi ini sebenarnya merupakan salah satu cara kami untuk memotivasi agar ke depan apa yang kemudian kita lakukan ini tidak hanya berhenti pada saat event. Tapi juga bisa menjadi aktivitas yang berkelanjutan," ungkap Yetti.
Dalam ajang tersebut, Kemantren Kraton keluar sebagai juara pertama. Selanjutnya, Kemantren Jetis menjadi juara kedua dan Kemantren Mergangsan meraih juara ketiga.
Sementara itu, Kemantren Gedongtengen memperoleh juara harapan pertama dan Kemantren Mantrijeron sebagai juara harapan kedua.
Para pemenang mendapatkan sertifikat penghargaan serta uang pembinaan.
BACA JUGA:Antisipasi Abu Vulkanik Erupsi GAK, Polres Mesuji Turun Langsung Bagikan Masker di Sejumlah Wilayah
Kemantren Kraton Angkat Situs Bersejarah
Kemantren Kraton yang menjadi juara pertama mengemas Jelajah Budaya dengan konsep perjalanan menggunakan sepeda untuk mengunjungi sejumlah situs bersejarah di kawasan Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta.
Tim produksi Babad Siti Kemantren Kraton, Icha Khaligi Yogiswara, mengatakan konsep tersebut dirancang untuk memperkenalkan situs-situs yang belum banyak diketahui masyarakat.
Salah satunya adalah Plososari yang masih memiliki keterkaitan dengan kawasan Tamansari, namun lokasinya berada di tengah permukiman warga.
"Terus tujuannya kita ke situs-situs yang memang orang awam itu belum mengetahui. Misalnya ada Plososari yang masih serangkaian Tamansari, tapi berada di pemukiman warga," tutur Icha.
Menurutnya, kegiatan yang dilaksanakan dalam Festival Babad Siti Kemantren menjadi tahap awal untuk mengembangkan Jelajah Budaya berbasis sepeda secara berkelanjutan.
"Jelajah Budaya kemarin menjadi trial. Ke depan jelajah sepeda akan dilanjutkan bersama mitra kami dan Karang Taruna Kemantren Kraton menjadi tour guide," jelasnya.
BACA JUGA:Pascahujan Abu Vulkanik, Polisi dan Warga Bersihkan Masjid Jami Pekon Pardasuka
Website Babad Siti Kemantren Diluncurkan
Dalam kesempatan yang sama, Pemkot Yogyakarta meluncurkan website Babad Siti Kemantren. Platform digital tersebut memuat storyline serta program aktivitas budaya yang dikembangkan oleh 14 kemantren.
Keberadaan website tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai sejarah, identitas, serta potensi budaya yang tersebar di berbagai wilayah Kota Yogyakarta.