Dibekali Hospitality hingga Storytelling
Mengusung semangat apresiasi kepada mereka yang berada di garis depan pelestarian warisan budaya sekaligus berinteraksi langsung dengan wisatawan, IHH Edisi Spesial Kemerdekaan dirancang untuk memperkuat kompetensi hospitality, komunikasi, dan pelayanan.
Pelatihan tidak hanya berfokus pada aspek teknis pelayanan, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan membangun hubungan emosional dengan wisatawan melalui komunikasi yang lebih personal dan bermakna.
Salah satu materi yang diberikan adalah seni bercerita atau storytelling sebagai pendekatan untuk menghadirkan layanan unggulan.
Peserta mempelajari cara menyampaikan sebuah cerita secara menarik, membangun emosi, serta membuat wisatawan merasa terhubung dengan destinasi sehingga pengalaman berkunjung menjadi lebih berkesan.
Kemampuan storytelling dinilai semakin relevan dalam pengelolaan destinasi berbasis warisan budaya. Candi dan berbagai peninggalan sejarah menyimpan banyak cerita, namun nilai serta pesan di baliknya perlu disampaikan melalui narasi yang mudah dipahami wisatawan.
Selain storytelling, peserta dibekali materi mengenai pelayanan berbasis keramahtamahan. Mereka diajak memahami kebutuhan dan keinginan wisatawan secara lebih spesifik melalui observasi langsung, analisis ulasan wisatawan di internet, hingga diskusi komunitas.
Gestur yang tepat, pilihan kata yang sopan, serta intonasi suara yang hangat juga menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan yang lebih personal.
“Pelestarian warisan budaya tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Para juru pelihara, juru pugar, suker, pemandu wisata, hingga seniman bukan sekadar menjalankan fungsi masing-masing, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisatawan ketika berkunjung ke destinasi,” terang Indung.
BACA JUGA:Meriahkan HUT ke-81 RI, KAI Daop 6 Gelar Beragam Kegiatan di Stasiun Yogyakarta
“Batu Itu Tidak Bisa Berbicara”
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Nahar Cahyandaru, mengapresiasi penyelenggaraan IHH yang dinilai relevan dengan peran peserta sebagai garda depan dalam menyampaikan nilai warisan budaya kepada masyarakat.
Menurut Nahar, para penjaga warisan budaya memiliki posisi strategis karena cagar budaya tidak dapat menyampaikan sendiri cerita maupun sejarahnya kepada pengunjung.
Manusia yang berada di sekitar cagar budaya, karena itu, memiliki peran untuk menerjemahkan nilai, sejarah, serta proses pelestariannya menjadi informasi yang mudah dipahami wisatawan.
“Batu itu tidak bisa berbicara. Kalian nanti yang membuat batu itu bicara. Ketika seorang juru pelihara sedang membersihkan dan ada wisatawan yang bertanya, misalnya, perlu dijelaskan bahwa batu-batu ini membutuhkan perawatan. Termasuk batu-batu di sekeliling candi yang posisinya belum pada tempatnya atau masih berserakan, itu juga tidak bisa berbicara. Kalian yang bisa menyampaikan. Para steller dan suker juga harus mampu menjelaskan,” jelas Nahar.