Bentangkan Bendera Merah Putih 1.000 Meter
Agenda lain yang menjadi bagian dari kegiatan adalah pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter.
Bendera tersebut dibentangkan secara bersama-sama oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari organisasi kemasyarakatan, petani, pedagang, ibu rumah tangga hingga masyarakat umum.
Bagi penyelenggara, pembentangan bendera tersebut bukan sekadar atraksi. Prosesi itu menjadi simbol persatuan sekaligus gambaran harapan masyarakat kepada negara.
Bendera kemudian diserahkan oleh masyarakat kepada perwakilan pemimpin di atas panggung. Prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol dititipkannya aspirasi, harapan, dan amanah masyarakat untuk membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Libatkan 1.000 Penyandang Disabilitas untuk Rekor MURI
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam Suara Inklusi untuk Semua 2026 adalah keterlibatan sekitar 1.000 penyandang disabilitas dalam upaya pencatatan Rekor MURI.
Ribuan penyandang disabilitas tersebut akan terlibat dalam pengucapan Proklamasi 1945 secara bersama-sama.
DIWA Foundation menilai keterlibatan penyandang disabilitas dalam kegiatan tersebut memiliki makna lebih luas daripada sekadar pencatatan rekor.
Kegiatan itu menjadi simbol bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia serta memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam ruang publik.
BACA JUGA:Jelang HUT RI ke-81, Polres Mesuji Serentak Sosialisasikan Pemasangan Bendera Merah Putih
“Ini bukan hanya sekadar pemecahan Rekor MURI. Ini melambangkan bahwa dengan kebersamaan dan keutuhan rakyat Indonesia dengan semangat proklamasi, yang merupakan titik awal perjalanan bangsa, akan membawa bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045,” kata Diah Warih.
Melalui Suara Inklusi untuk Semua 2026, DIWA Foundation berharap pesan tentang kesetaraan dan inklusivitas tidak berhenti di Yogyakarta.
Malioboro diposisikan sebagai titik awal untuk membawa pesan tersebut ke berbagai wilayah Indonesia melalui rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan secara estafet.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan pesan bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Sebaliknya, perbedaan berbagai elemen masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia secara bersama-sama. (Faqih).