JIKF 2026 Awali Rangkaian Festival Lewat Golden Ticket Selection di Pantai Banaran Kulon Progo

Selasa 07-07-2026,13:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

YOGYAKARTA, INFOWAW.ID – Rangkaian Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 resmi dimulai melalui ajang Golden Ticket Selection yang digelar di Lapangan Tayuban, Pantai Banaran, Galur, Kulon Progo, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menjadi tahap seleksi bagi pelayang daerah untuk memperebutkan tiket menuju kompetisi nasional pada puncak JIKF 2026 yang akan berlangsung di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli mendatang.

Tidak hanya diikuti peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbagai daerah di Indonesia, pembukaan festival juga diramaikan kehadiran 35 pelayang internasional dari 17 negara. Kehadiran peserta mancanegara tersebut menandai dimulainya agenda festival layang-layang bertaraf internasional yang setiap tahun menjadi salah satu daya tarik wisata dan budaya di Yogyakarta.

Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan Golden Ticket Selection merupakan bagian dari upaya memberikan ruang bagi pelayang daerah untuk tampil dan berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.

“Melalui Golden Ticket Selection kami ingin memberikan kesempatan kepada pelayang daerah untuk bertanding di tingkat nasional. Harapannya mereka semakin percaya diri, terus berkembang, dan mampu bersaing hingga level internasional,” kata Anang.

BACA JUGA:Gramm Hotel by Ambarrukmo Hadirkan Ruang Dialog Seni Lewat Pameran Resonansi

Pada hari pertama, panitia mempertandingkan dua kategori, yakni layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Sebanyak 17 karya diterbangkan, terdiri atas 11 peserta kategori tradisional dan enam peserta kategori kreasi.

Kategori tradisional menampilkan beragam karya khas daerah seperti Mandala Berwarna, Batik Ing Ngayogya, Kembang Lintang, Owel, Wijaya Kusuma, hingga Punokawan Gank. Sementara kategori kreasi menghadirkan desain inovatif melalui karya Anoman, Drum, Dasamuka 2D, Burung Bido, Whell Kite, dan Kencana Langit.

Penilaian dilakukan oleh dewan juri melalui dua tahapan, yakni penilaian konstruksi layang-layang di darat dan performa saat diterbangkan di udara. Aspek yang dinilai meliputi kualitas rangka, tingkat kesulitan pembuatan, komposisi warna, kestabilan terbang, karakter suara, hingga kesesuaian bentuk dengan tema yang diusung peserta.

Selain menjadi ajang kompetisi, penyelenggaraan JIKF 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah instansi untuk memastikan aspek keselamatan terpenuhi. PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Salatiga melakukan koordinasi dengan panitia guna memastikan lokasi penerbangan berada pada area yang aman dan jauh dari jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV.

Dukungan juga diberikan AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta yang melakukan asesmen ruang udara dan berkoordinasi dengan panitia terkait pelaksanaan festival. Langkah tersebut dilakukan mengingat lokasi kegiatan berada tidak jauh dari kawasan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Menurut panitia, kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan kegiatan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menerbangkan layang-layang di lokasi yang aman.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang perlombaan. Salah satunya Kindar, peserta asal Candimulyo, Magelang, yang mengikuti kategori tradisional dengan karya bertajuk Kembang Lintang. Layang-layang tersebut dipersiapkan selama lebih dari 20 hari menggunakan rangka bambu pilihan dengan tingkat kerumitan tinggi.

BACA JUGA:MV 'Takkan Berpisah' Ruzan & Vita Tayang 13 Juli 2026, Angkat Kisah Cinta dan Kesetiaan

“Saya ikut bukan hanya untuk mencari juara, tetapi menambah teman dan pengalaman. Harapannya kegiatan seperti ini terus diadakan agar pelayang semakin percaya diri menunjukkan kreativitasnya. Soal hasil, saya anggap sebagai bonus,” ungkapnya.

Sementara itu, peserta asal Amerika Serikat, Renne Matthew dari Massachusetts, mengaku terkesan dengan penyelenggaraan festival dan keramahan masyarakat Indonesia. Ia datang ke Indonesia untuk pertama kalinya setelah mendapatkan rekomendasi dari rekannya yang pernah mengikuti JIKF.

Kategori :