Praktik Baik Pendidikan Berbasis Masyarakat dari Sleman Curi Perhatian di Panggung Nasional KPI 2026

Minggu 05-07-2026,19:00 WIB
Reporter : Faqih
Editor : Alvin Septian

YOGYAKARTA, INFOWAW.ID -- Praktik baik pendidikan berbasis masyarakat yang dikembangkan RW 18 Ramah Anak Leles, Padukuhan Ngringin, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendapat panggung nasional dalam Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026  yang berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pada 1–2 Juli 2026.

Dalam ajang tersebut, RW 18 Ramah Anak Leles bergabung bersama satuan pendidikan formal dan nonformal Kapanewon Depok mengisi Booth Pameran Sleman Sembada yang menampilkan berbagai inovasi dan praktik baik dalam membangun ekosistem pendidikan berbasis kolaborasi.

Mengusung tema "Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada", KPI 2026 menjadi forum nasional yang mempertemukan pemerintah, akademisi, satuan pendidikan, komunitas, dunia usaha, media massa, dan masyarakat untuk berbagi pengalaman sekaligus merumuskan strategi transformasi pendidikan yang berkelanjutan.

Keikutsertaan Kapanewon Depok menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Berbagai inovasi hasil sinergi pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, komunitas, hingga warga ditampilkan sebagai contoh pembangunan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berpihak kepada anak.

BACA JUGA:SMSI Lampung Diganjar Penghargaan dari Kapolda Lampung

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah Poster Gagasan Inovasi "Surgaloka Anak Indonesia" karya Ketua Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) RW 18 Ramah Anak Leles, Didiek Arifin.

Poster tersebut menjelaskan perjalanan pembangunan kawasan ramah anak menggunakan pendekatan STAR (Situation, Challenge, Action, Reflection), mulai dari kondisi awal, tantangan yang dihadapi, aksi kolaboratif yang dilakukan masyarakat bersama pemerintah dan berbagai mitra, hingga hasil yang telah dicapai serta peluang replikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Program Surgaloka Anak Indonesia lahir dari kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang anak di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan semakin terbatasnya ruang bermain yang aman.

Melalui semangat gotong royong, masyarakat bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Pemerintah Kabupaten Sleman, dan berbagai mitra berhasil menghadirkan taman bermain ramah anak yang kini berkembang menjadi ruang belajar, bermain, berkreasi, sekaligus memperkuat karakter anak melalui berbagai kegiatan edukatif.

Ketua Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak RW 18 Ramah Anak Leles, Didiek Arifin, mengatakan keikutsertaan dalam KPI 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik baik yang lahir dari masyarakat sekaligus menjadi ruang belajar bersama dengan berbagai daerah di Indonesia.

BACA JUGA:Polres Mesuji Tangkap 4 Terduga Pelaku Pembunuhan Tapir di Kawasan Register 45

"Kami ingin menunjukkan bahwa membangun ekosistem pendidikan tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Pendidikan juga tumbuh dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Melalui inovasi RW Ramah Anak, kami berharap pengalaman dari Leles Ngringin dapat menginspirasi daerah lain untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak," ujar Didiek, Rabu (1/7/2026).

Selain poster inovasi, Booth Kapanewon Depok juga menampilkan Peta Kolaborasi yang menggambarkan sinergi berbagai pemangku kepentingan dalam membangun pendidikan di wilayah Kapanewon Depok.

Peta tersebut memperlihatkan keterhubungan antara Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kalurahan, Kapanewon Depok, sekolah dan lembaga pendidikan, perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, sektor swasta, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dalam skema tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman berperan dalam penyusunan kebijakan, penganggaran, kurikulum, serta pembinaan pendidikan. Pemerintah Kalurahan menjadi fasilitator di tingkat lokal, sekolah menjalankan proses pembelajaran, sedangkan perguruan tinggi mendukung melalui riset, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan peningkatan kapasitas pendidik.

Kategori :