Lampung Ekspor Tapioka Senilai Rp26 Miliar ke Tiongkok, Perkuat Hilirisasi Singkong

Kamis 07-05-2026,13:54 WIB
Reporter : Alvin Septian
Editor : Alvin Septian

BANDAR LAMPUNG, INFOWAW.ID -- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melepas ekspor perdana 3.300 ton tepung tapioka ke Tiongkok dengan nilai mencapai Rp26 miliar. Hal ini sekaligus menegaskan posisi Lampung sebagai lumbung singkong nasional.

Pelepasan ekspor tersebut dilakukan di Pelabuhan Panjang, Bandarlampung, Selasa (5/5/2026).

Ekspor ini menjadi tonggak penting dalam penguatan hilirisasi komoditas singkong sekaligus membuka peluang pasar internasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha di daerah.

Pelepasan ekspor ini juga menjadi simbol kebangkitan industri singkong Lampung yang tidak hanya berfokus pada produksi bahan mentah, tetapi juga pada pengembangan industri hilir yang bernilai tambah tinggi.

BACA JUGA:Curi Motor di Area Masjid, Dua Warga Lampung Utara Ditangkap Polisi

Gubernur Mirza menegaskan bahwa singkong telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Lampung sejak masa kolonial.

Ia mengungkapkan bahwa sebelum beras menjadi makanan utama, masyarakat Lampung telah mengandalkan umbi-umbian seperti singkong, sagu, dan sorgum sebagai sumber pangan.

Menurutnya, secara alamiah Lampung memiliki kondisi yang sangat ideal untuk pengembangan singkong.

Hal ini tercermin dari luas lahan dan dominasi komoditas tersebut dalam struktur pertanian daerah.

“Hampir 20 persen wilayah Lampung ditanami singkong. Dari sinilah tumbuh industri tapioka yang kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah,” ujarnya.

BACA JUGA:Dari 232 Desa, 11 Desa di Lampung Utara Belum Ajukan Pencairan DD Tahap 1 2026

Gubernur Mirza menyebutkan bahwa pada tahun 2025, sekitar 70 persen produksi tapioka nasional berasal dari Provinsi Lampung. 

Kondisi ini menjadikan Lampung sebagai pemain utama dalam industri tapioka di Indonesia bahkan di tingkat Asia.

Namun demikian, Gubernur Mirza mengakui bahwa sektor ini tidak lepas dari tantangan, terutama fluktuasi harga yang kerap merugikan petani.

Pada 2025, harga singkong sempat jatuh hingga Rp400–Rp500 per kilogram, yang berdampak pada rendahnya pendapatan petani.

Kategori :