Geliat Penjualan Hewan Kurban di Metro, Harga Sapi Naik hingga 30 Persen

Jumat 01-05-2026,00:02 WIB
Reporter : Tio Sagita
Editor : Alvin Septian

Terkait jenis hewan yang paling diminati, Heri menyebutkan bahwa hal tersebut tergantung pada wilayah dan kebiasaan masyarakat. Untuk daerah seperti Metro, sapi masih menjadi pilihan utama, terutama untuk kurban kolektif di masjid. Namun, kambing dan domba juga tetap memiliki pasar tersendiri.

BACA JUGA:Kunjungan ke Pringsewu, Ketua MPR Ahmad Muzani Dorong Penguatan Empat Pilar Kebangsaan

“Kalau di masjid biasanya patungan sapi. Tapi ada juga yang memilih kambing atau domba, tergantung kemampuan dan kebiasaan,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa distribusi hewan kurban dari Lampung tidak hanya untuk wilayah lokal, tetapi juga menjangkau daerah lain seperti Jabodetabek hingga wilayah Sumatera bagian atas.

“Jadi sebenarnya pasar kita tidak hanya di Metro atau Lampung saja, tapi juga ke luar daerah, untuk memenuhi Jabodetabek maupun untuk memenuhi sumatera ke atas,” tambahnya.

Meski demikian, Heri menilai peningkatan permintaan di wilayah Metro tahun ini tidak terlalu signifikan. Ia memperkirakan kenaikan hanya berada di kisaran 5 hingga 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Masih relatif sama seperti tahun lalu. Peningkatannya ada, tapi tidak terlalu besar, masih standar di kisaran 5 hingga 10 persen,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi adalah perlunya edukasi kepada masyarakat terkait ibadah kurban. Ia menekankan bahwa kurban tidak harus dilakukan oleh orang yang berkecukupan secara finansial saja, melainkan bisa dilakukan secara kolektif.

BACA JUGA:Pemprov Lampung Raih Penghargaan Apresiasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan

“Perlu edukasi bahwa kurban itu bisa dilakukan bersama-sama, tidak harus sendiri. Ini penting supaya minat masyarakat meningkat,” katanya.

Di sisi lain, Heri juga mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi selama menjalankan usaha peternakan. Salah satu yang paling berdampak adalah munculnya penyakit ternak seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) dalam beberapa tahun terakhir.

“Penyakit ini sangat berpengaruh. Kalau ternak sudah terjangkit, tentu tidak bisa dijual. Itu kerugian besar bagi peternak,” ungkapnya.

Meskipun demikian, ia tetap optimistis terhadap penjualan tahun ini. Heri berharap seluruh peternak dapat memperoleh hasil yang baik selama musim kurban.

Selain itu, ia juga menyoroti potensi kebijakan Dam Haji yang dinilai dapat menjadi peluang besar bagi peternak lokal jika diterapkan secara merata di Indonesia. Menurutnya, jika pelaksanaan Dam Haji dilakukan di dalam negeri, maka permintaan terhadap kambing dan domba akan meningkat signifikan.

BACA JUGA:Pemprov Lampung Raih Penghargaan Apresiasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan

“Kalau Dam Haji bisa dilakukan di Indonesia dan dibagi merata ke daerah, tentu akan sangat membantu peternak. Permintaan bisa meningkat dan ekonomi peternak juga ikut naik,” jelasnya.

Kategori :